PDAM Busel Terbaik Ke-dua Se-Sultra

299 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Dirut PDAM Busel, Tamrin, meninjau lokasi jaringan air bersih di Busel

Jakarta-Meski baru seusia jagung, kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus diacungi jempol. Pasalnya, dari 11 PDAM yang tersebar di Sulawesi Tenggara (Sultra), PDAM Busel masuk pada peringkat kedua setelah Kolaka Utara.

Direktur PDAM Busel, Tamrin MT mengatakan, berdasarkan data, nilai pada grafik kinerja PDAM Busel tahun 2017 mencapai 2,48. Sedangkan Kolaka Utara yang diketahui paling tertinggi memperoleh nilai 2,94 kemudian disusul kota Baubau dengan perolehan nilai grafik 2,23. “Artinya, perolehan nilai Buton Selatan mengalahkan beberapa daerah yang jauh lebih dulu terbentuk. Misalnya kota Baubau, kabupaten Buton, Kolaka, Kota Kendari dan beberapa daerah lainnya,” kata Tamrin saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Senin (15/10).

Ia merincikan, dalam tiga tahun terakhir, grafik kenaikan kinerja PDAM Busel sangat signifikan. Pada tahun 2015, nilai kinerja PDAM Busel hanya tercatat 0,00. Angka ini bertahan hingga tahun 2016. Namun pada tahun 2017 melonjak naik.

Ia melanjutkan, berdasarkan hasil Evaluasi Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU/PR) yabg tertuang dalam surat keputusan (SK) nomor 04-02-6/134 tanggal 11 Oktober 2018 tentang peningkatan kinerja PDAM di 374 PDAM di Indonesia, sebanyak 223 PDAM dinyatakan sehat. Sedangkan 99 dinyatakan kurang sehat dan 52 dikatakan sakit. Dari hasil evaluasi tersebut, PDAM Busel masuk dalam kategori tidak sehat. “Jadi Salah satu fungsi BPPSPAM adalah memberikan penilaian kinerja PDAM berdasarkan empat aspek yakni, aspek keuangan, pelayanan, operasi dan SDM dengan 18 indikator didalamnya. Namun seperti yang saya katakan tadi bahwa, Berdasarkan hasil penilaian tersebut, Busel masuk terbaik kedua Se-Sultra dengan perolehan nilai kerja sebanyak 2,42. Padahal kita (PDAM Busel) baru berdiri berapa tahun lalu,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjutnya, ada dua hal yang harus diperhatikan dalam kondisi kerja PDAM seperti yang direkomendasikan antara lain menyangkut persoalan tarif dan tingkat kehilangan air. “Jadi sesuai dengan rekomendasi itu dikarenakan rata-rata tarif PDAM masih Rp 4. 995, 40 atau lebih kecil dari harga produksi yakni sebesar Rp 259 702, 55. Akibatnya, PDAM rugi secara finansial. Kemudian Tingkat kehilangan air PDAM saat ini mencapai 64, 52%. Sedang idealnya hanya 20%,” pungkasnya. (Dny)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.