Khalifah di Buton Bukan Khalifah HTI

44 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

SETELAH resmi beralih dari kerajaan menjadi kesultanan, Buton kemudian dipimpin oleh seorang sultan. Dialah Sultan Muhammad Isa Kaimuddin KhalifatulKhamis atau Halu Oleo atau Landolaki atau Murhum. Murhum sebelumnya menjabat sebagai raja ke-enam kerajaan Buton sekaligus Sultan pertama di Kesultanan Buton.

Dari Murhum, Gelar khalifatullkhamis kemudian diberikan oleh semua sultan Buton. Selain gelar Khalifa, para sultan juga diberi gelar berdasarkan peristiwa yang dialami. Namun apakah gelar khalifatullkhamis ini sama dengan Khalifah yang dimaksud kelompok terlarang di Indonesia?

Munculnya Sebutan Khalifa (pemimpin) setelah Rasulullah Muhammad Saw, wafat sekitar 1400 tahun lalu. Saat itu, umat harus menentukan pemimpin Islam setelah Rasulullah. Beberapa klan (Bani) sudah berkumpul di suatu tempat untuk melakukan perundingan siapa pengganti Rasulullah. Peristiwa ini kenal dengan peristiwa saqifah.

Perundingan sempat berjalan alot. Beberapa klan yang mengusulkan kandidatnya menginginkan agar klannyalah yang memimpin umat. Namun perdebatan itu usai setelah Umar Bin Khattab mengajukan Abu Bakar menjadi pemimpin umat setelah Rasulullah. Salah satu alasannya Abu Bakar pernah menggantikan Rasulullah menjadi imam.

Setelah Abu Bakar wafat, kekhalifahan berlanjut pada Umar Bin Khattab. Kemudian Utsman Bin Afan dan kemudian Ali Bin Abi Thalib.

Saat ini, Indonesia ramai diperbincangkan terkait dengan kekhalifahan. Bahkan salah satu kelompok ormas bertekad ingin merubah ideologi Indonesia yakni Pancasila menjadi ideologi khilafah, atau negara yang menganut ideologi Islam. Pemimpin negara adalah Khalifa seperti dimana pemimpin Islam pada masa lalu. Namun karena dianggap berbahaya, negara akhirnya membubarkan kelompok ini.

Kelompok ini adalah Ḥizb at-Taḥrīr (HTIndonesia). Hizbut tahrir adalah organisasi politik pan-Islamis, yang menganggap “ideologinya sebagai ideologi Islam”, yang tujuannya membentuk “Khilafah Islam” atau negara Islam. Kekhalifahan baru akan menyatukan komunitas Muslim (Ummah) dalam negara Islam kesatuan (bukan federal) dari negara-negara mayoritas Muslim. Mulai dari Maroko di Afrika Barat ke Filipina selatan di Asia Timur. Negara yang diusulkan akan menegakkan hukum Syariah Islam, kembali ke “tempat yang selayaknya sebagai negara pertama di dunia”, dan membawa “dakwah Islam” ke seluruh dunia.

Sampai pertengahan 2015, beberapa negara melarang organisasi ini. Misalnya Jerman, Rusia, Cina, Mesir, Turki, dan semua negara Arab kecuali Lebanon, Yaman dan UAE. Organisasi ini terlibat dalam “politik kebencian” dan intoleransi yang memberikan pembenaran ideologis untuk kekerasan memanggil pelaku bom bunuh diri sebagai “martir”, menuduh negara-negara barat melancarkan perang terhadap Islam dan Muslim, dan menyerukan penghancuran umat Hindu di Kashmir, orang Rusia di Chechnya dan orang Yahudi di Israel sampai “negara Islam” telah didirikan.

Apakah Khalifah yang dimaksud HTI sama dengan Khalifah di Buton?

Jauh sebelum kesultanan Buton berdiri, Mpu Prapanca melalui naskah negera kertagama-nya telah menyebut Buton sebagai negeri para resi (wali). Dalam kepercayaan Islam wali adalah orang yang diakui memiliki pemahaman agama yang tinggi. Orang Buton menyebut itu Faham (fahamu).

Pengembaraan ilmu pengetahuan para wali ini pada agama sudah pada tingkat tasawuf. Fase ini terkadang membuat manusia sudah “tidak mau” berurusan lagi dengan nikmat dunia. Mereka hanya fokus pada urusan akhirat. Para akademisi menempatkan ilmu tasawuf lebih tinggi dari ilmu filsafat.

Dalam catatan sejarah Buton, seorang sultan pernah menceritakan betapa tak berartinya jabatan atau kekuasaan dalam kehidupan. Ia merasa, dirinya sangat tak berarti dihadapan Allah. Bahkan jabatan itu bukan jaminan akan keselamatan seseorang di akhirat kelak. Sultan tersebut adalah Idrus Kaimuddin. Karya-karya kini dikenal melalui Syair-syair kabanti, Bula Malino, Kanturu Mainawa dan masih banyak lagi.

Sementara, pemahaman seperti itu berbanding terbalik dengan pemahaman HTI. HTI menganggap bahwa segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah itu bertentangan dengan Islam. Mereka menyebut itu perilaku bid’ah. Misalnya ziarah kubur, haroa dan masih banyak lagi. Mereka hanya melihat sisi luarnya saja tanpa memperhatikan apa makna atau tujuan dibalik ritual-ritual tersebut.

Kini mereka kembali mengibarkan bendera HTI dengan kalimat bertuliskan tauhid di dalam benteng keraton Buton. Mereka menilai bahwa Buton bagian dari penganut sistem pemerintahan khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Disisi lain, kebiasaan masyarakat Buton dalam menjalankan islam itu sangat bertentangan dengan sikap mereka yang gampang membidahkan sesuatu. Misalnya, praktek solat Jumat di masjid keraton Buton yang ketika azan dikumandangkan empat orang Muazin. Atau bacaan ayat suci Al-Quran yang masih menggunakan nada atau dialeg Buton (katu wolio). Kebiasaan itu tidak pernah ada dimasa Rasulullah. Namun mereka menghalalkan segala cara demi hasrat kebenaran yang menurut mereka benar.

Sangat wajar pemerintah saat ini melarang aktifitas HTI tersebut. Sebap masih banyak masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam tradisi. Islam yang memahami sebuah nilai, bukan memahami sebuah ajaran.

Jika beragama karena penampilan, Abu Lahab juga menggunakan sorban dan gamis. Bila ukuran keimanan seseorang adalah adalah Hafids, Pembunuh Abi Thalib juga seorang hafidz. Jangan tunjukan kebenaran mu kepada orang lain. Karena belum tentu kebenaran anda benar untuk orang lain. Tunjukkanlah kebaikan mu, karena kebaikan adalah ajaran setiap agama.

Penulis: Deny Djohan

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.