Prof. Dr. Susanto Zuhdi: Anak Muda Harus Mencintai Sejarah

49 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

BAUBAU-Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof Susanto Zuhdi, menyatakan peninggalan sejarah masa lalu memberikan nilai dan ispirasi dalam menggerakan generasi muda. Hal itu diungkapkan Susanto Zuhdi saat tampil sebagai pembicara dalam seminar budaya forum anak Kota Baubau yang dirangkaikan dengan bedah buku berjudul “Labu Wana Labu Rope,” Kamis 22 November 2018.

Kata dia, sejarah sebagai modal, sejarah sebagai inspirasi yang menggerakkan anak muda masa kini dan akan datang, karena itu, generasi muda jangan berhenti mencintai sejarah dan harus tetap lebih menghargai sejarah dan dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata.

“Sebetulnya peluncuran buku ini edisi yang kedua, di mana edisi pertama dikeluarkan tahun 2010. Buku ini merupakan disertasi tahun 1994 kemudian diterbitkan edisi baru,” ujarnya, seraya menyebutkan desertasinya itu sebelumnya sudah banyak beredar, baik dalam bentuk makalah maupun seminar.

Banyaknya saran dan pendapat dari peserta pada kegiatan bedah buku yang dihadiri komunitas, pelajar tingkat SMA dan SMP serta tokoh masyarakat itu, menurutnya, tentu sangat baik karena menandakan generasi muda begitu mencintai sejarah.

“Bedanya dengan buku kedua saya memberikan epilog atau refleksi perjalanan. Kalau buku ini sudah habis akan terbit edisi ketiga,” ujar Doktor program pascasarjana UI program studi sejarah ini.

Terbitnya buku yang membahas tentang sejarah budaya Buton itu, diharapkannya, generasi muda Buton harus lebih merespon, karena masih banyak yang harus ditulis sesudah dirinya.

“Saya kalau ke Buton seperti pulang kampung, seperti kampung yang kedua saya. Buton adalah semangat yang tak kunjung padam,” tandasnya.

Di samping itu, adanya juga pemaparan membumikan “Sarapataanguna”, menurut dia, merupakan implementasi yang sudah benar dalam mewujudkan nilai-nilai `PO-5`. Hanya saja kembali kepada para yang menjalankannya.

Sementara itu, Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin mengatakan, buku karya Prof Susanto yang mengangkat budaya Buton itu mengandung banyak nilai di dalamnya, sehingga perlu dibedah dan disosialisasikan.

“Itu juga akan menjadi cikal bakal ketika mengusulkan Oputa Yikoo menjadi pahlawan nasional,” katanya.

Di samping itu, nilai `sarapataanguna` yang merupakan kearifan lokal warisan Buton, kata dia, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari memiliki banyak manfaat karena berkaitan erat dengan nilai-nilai luhur pancasila yang menjadi ideologi negara.

“Harapannya tentu harus dibarengi dengan perbaikan moral. Seperti adanya aksi dengan bakar keranda meminta pendidikan gratis, padahal menjalankan pemerintahan sudah ada petunjuk dari pusat. Oleh kerena itu, dengan seminar budaya itu merupakan perbaikan moral dan mental, karena tanpa kebersamaan tidak mungkin tercipta suatu pembangunan,” ujarnya.(an/is)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.