Dinas Pariwisata Hadirkan Pusat Jajanan Kuliner

74 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

BAUBAU- Keragaman kuliner dan kerajinan khas Kota Baubau sebagai peninggalan peradaban kesultanan Buton memang terkenal kaya. Kekayaan ini coba dikembangkan melalui promosi terpusat.

Sebagai langkah awal, lokasi promosi terpusat ini sudah digenjot mulai 2018 ini.

Sedikitnya 18 gazebo kayu bergaya khas rumah adat Buton (Malige,red) telah berdiri megah dalam kawasan benteng keraton Buton.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Baubau, Ibnu Wahid menjelaskan 18 gazebo bergaya khas Malige itu tepat berada dibelakang Masjid Agung Keraton Buton.

Dilokasi itulah segala kekayaan kuliner maupun oleh-oleh khas Buton akan dijajakan kepada wisatawan baik mancanegara maupun domestik.

“Jadi dilokasi itu khusus menjajakan kuliner dan kerajinan tradisional sebagai buah tangan. Kita bangun pusat jajanan kuliner dan kerajinan tradisonal karena itu menjadi keharusan dari sebuah destinasi wisata,” kata Ibnu Wahid diruang kerjanya, Kamis 13 Desember 2018.

Kata dia, membangun sebuah destinasi harus melengkapi tiga A, diantaranya aksesibilitas, atraksi dan amenitas.

Amenitas atau sarana dan prasarana umum jajanan kuliner dan suvenir inilah salah satunya.

“Kedepan kita harapkan wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berkunjung dibenteng keraton akan merasa dimanjakan disini. Selain mereka menikmati heritage atau melihat peninggalan kebudayaan dan sejarah baik benda maupun tak benda, juga sekaligus bisa menikmati jajajan kuliner khas dan suvenir yang berbasis masyarakat,” katanya.

Ibnu Wahid mengaku jajanan dipusat kuliner diupayakan higienis karena berupa makanan kering sehingga ruang disana tidak terlalu semrawut. Aktifitas goreng menggoreng tidak akan diperkenankan.

Selain itu, karena lokasi pusat jajanan tepat dibelakang masjid Agung Keraton maka segala aktifitas akan dikoordinasikan dengan para tokoh Sara agama. Di waktu-waktu tertentu misalnya saat salat maka tidak diperbolehkan untuk berjualan.

Kata dia, pengelolaan pusat jajanan kuliner dan suvenir ini murni dilaksanakan masyarakat. Masyarakat Kelurahan Melai menjadi pelaku usaha yang diprioritaskan.

“Untuk pelaku usahanya akan kita koordinasikan dengan kelurahan. Nanti kelurahan bekerjasama dengan ketua RT dan RW untuk mengiventarisir warganya yang memiliki basic jualan dan layak. Jangan tiba-tiba orang yang tidak tahu jualan belagu masuk untuk jualan.

Ini kita lakukan untuk mengantisipasi jangan sampai bias dan menimbulkan kesalah pahaman dalam masyarakat,” tukasnya.

Pusat kuliner dan suvenir ini akan mulai beroperasi 2019 mendatang. Pemerintah sendiri akan mengeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) untuk mengatur jalannya pengelolaan.

“Memang dikelola murni oleh masyarakt tapi nanti ada aturan main yang dikeluarkan pemerintah melalui Perwali. Paling tidak ada sumbangan ke pemerintah untuk maintenance atau pemeliharaannya,” katanya.

Pembangunan pusat jajanan kuliner dan suvenir ini diharapkan mampu mendongkrak promosi wisata di Baubau. Terlebih menjadi lapangan kerja masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupannya.

Ibnu Wahid mengurai anggaran pembangunan pusat jajanan kuliner dan suvenir ini berasal dari Dana Alokasi Khusus. Nilainya mencapai Rp 3,9 miliar sudah termasuk pembangunan gazebo di pantai Nirwana, pantai Kamali, dan beberapa titik didalam kawasan benteng keraton Buton.(adm)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.