Antropolog Unhas Minta Pemkot Buat Perda Miras

353 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Baubau-Bentrok kelompok pemuda kelurahan Bone-Bone dan Tarafu (bobota) kembali pecah, Jumat, (8/2). Akibat bentrokan itu satu pemuda tarafu mengalami luka pada bagian kepala akibat teerkena lemparan dan satu lainnya terkena busur dibagikan kaki.

Tidak hanya korban luka, bentrokan ini juga berdampak pada kerugian materi. Pasalnya, sempat terjadi pembakaran satu Unit sepeda motor merek Yamaha Mio DT 3467 YB rusak dibakar dan satu Unit sepeda motor Jenis Satria 4 Tak FU dirusak. Tidak hanya itu, 7 rumah penduduk ikut mengalami kerusakan akibat terkena lemparan batu.

Konflik berkepanjangan itu membuat antropolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr. Tasrifin Tahara angkat bicara. Menurutnya, akar masalah konflik antar kampung yang kerap terjadi itu terletak pada sejarah masing-masing kampung. Hal ini berdasarkan pendekatan teori konflik struktural.

Kata dia, sejak dulu, warga Bone-Bone terkenal sebagai kampung perguruan ahli beladiri silat. Masyarakat setempat menyebutnya balaba. Saat itu, ilmu bela diri ini hanya digunakan disaat-saat tertentu atau terjadi konflik besar. Saat itu, banyak warga Tarafu dan Wameo datang berguru di Bone-Bone. Dan kisah itu masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat. “Seiring perkembangan zaman banyak generasi muda saat ini banyak yang lupa akan sejarah itu karena sudah merasa hebat saat ini. Mereka lupa kalau kita ini punya sejarah masing-masing dan suatu saat bisa keluar dalam bentuk kekerasan,” tutur Tasrifin saat dikonfirmasi, Sabtu, (9/2).

Dekan Antropologi Unhas ini melanjutkan, Selain melupakan sejarahnya, pengaruh modernisasi seperti budaya meminum minuman keras (miras) sudah sangat mempengaruhi generasi pemuda antar kelompok tersebut. “Misalnya jika ada orang yang merasa jago silat ketika melihat ada orang sombong berlagak dihadapan kita sudah pasti dengan spontan jurus-jurus kita keluar. Nah ini yang menjadi memori kolektif masyarakat,” paparnya.

Pria berdarah Buton ini menjelaskan, dalam ilmu antropologi konflik tersebut disebut konflik struktural atau konflik yang berasal dari ingatan bersama. Artinya, konflik yang terjadi antar kedua kelompok tersebut tidak muncul begitu saja. Sebab masing-masing kampung memiliki identitas kuat dan ditambah dengan pengaruh miras yang membuat seseorang tidak berfikir panjang.
“Kalau secara hubungan genetik saya belum terlalu paham antar dua kampung ini, tapi kalau saya melihat pada identitas kampung tadi,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, konflik ini akan terus terus terjadi apabila para pihak yang bertanggungjawab tidak segera melakukan pencegahan. Misalnya pencegahan menggunakan pendekatan kultural dengan model harmonisasi.

Solusi lain, pemerintah harusnya mengisi ruang-ruang potensi pada setiap kampung. Sehingga para pemuda dan masyarakat setempat bisa berekspresi sesuai dengan kebudayaan mereka masing-masing tanpa harus saling mengganggu.

Kedua, pemerintah seharusnya sudah melahirkan regulasi dalam bentuk peraturan daerah (Perda) terkait peredaran dan penjualan miras di kota Baubau. Sebab kuat dugaan fariabel utama pemicu konflik adalah miras. “Esensi miras itu tidak harus dikonsumsi secara berlebihan, karena kalau sudah berlebihan itu akan menggangu ketertiban. Dari sisi hukum pemerintah daerah sudah perlu disusun Perda Miras,” imbuhnya. Dny

You might also like More from author

Comments are closed.