Diusul Jadi Pahlawan Nasional, Ini Kisah Perjalanan Sultan Himayatuddin, Oputa Yiko’o

769 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Baubau-Upaya memperjuangkan sultan Himayatuddin atau oputa yiko’o sebagai pahlawan Nasional terus dilakukan. Sebagai sosok pemimpin yang memerangi Belanda pada masa penjajahan dulu, sultan Buton ke-20 dan 23 itu dianggap sangat layak dinobatkan sebagai pahlawan.

Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Pengusulan Sultan Himayatuddin sebagai Pahlawan Nasional, Dr. Tasrifin Tahara mengatakan, sudah saatnya Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki pahlawan Nasional. Saat ini, sosok yang diusulkan sebagai pahlawan adalah Sultan Buton ke-20 dan 23 yakni, Sultan Himayatuddin atau oputa yiko’o atau Lakarambau. “Semua dokumen berkas itu sudah berada di istana presiden. Tinggal menunggu diteken,” ungkap antropolog Unhas itu

Kata dia, dalam riwayat perjalanannya, Sultan Himayatuddin adalah satu-satunya Sultan Buton yang konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Kompeni-Belanda hingga akhir hayatnya selama 24 tahun yakni periode 1752-1776. Dia meninggal selama masa perjuangan di puncak Gunung Siontapina sehingga dikenal dengan Opu yi Koo atau sultan yang bergerilya di hutan.

Sebelum masa pemerintahan Himayatuddin, Kesultanan Buton dianggap sebagai sekutu Belanda karena perjanjian “abadi” yang dibuat oleh para penguasa sebelumnya dengan Kapten Appolonius Scotte atas nama Gubernur Jenderal Kompeni (VOC) pada 5 Januari 1613 dan Cornelis Speelman pada 25 Juni 1667. Sultan Himayatuddin dengan tegas menolak semua perjanjian yang dibuat oleh pendahulunya dengan Belanda, karena dinilai tidak menguntungkan pihak Buton. Sikap itu yang kemudian menyulut api permusuhan Kompeni-Belanda terhadap Buton.

Perompakan kapal Belanda, Rust en Werk, di pelabuhan Baubau oleh Frans Fransz dan pengikutnya pada bulan Juli 1752 memicu terjadinya perang Buton versus Kompeni-Belanda. Pada kasus itu, Sultan Himayatuddin tidak berupaya untuk mengatasinya, bahkan terkesan membiarkan pelakunya melarikan diri dan membangun benteng di Pulau Kabaena. Karena itu, Himayatuddin dianggap bersalah dan harus membayar kerugian kepada VOC berupa 1.000 orang budak. Karena itu juga, para pembesar Buton meminta Himayatuddin turun dari jabatannya.

Sebelum turun dari jabatannya, Himayatuddin sempat berperang melawan serangan Belanda. Dalam peperangan itu, beberapa petinggi kesultanan seperti Kapitalao, Bontogena dan Sapati, yang dengan Gaga berani melawan Belanda gugur. Kisah ini kemudian disebut zamani kaheruna Walanda atau zaman huru-hara Belanda.

Melihat kondisi semakin tak memungkinkan, sultan Himayatuddin memutuskan untuk melarikan diri bersama keluarganya di Kaisabu. Dari sana rombongan berjalan menuju Siontapina melalui Galampa. Sedang putri dan cucu Himayatuddin, yakni Wa Ode Wakato dan Wa Ode Kamali, tidak sempat ikut lari sehingga menjadi tawanan Rijsweber. Dalam ingatan kolektif masyarakat Buton, mereka dikenal dengan i lingkaakana walanda atau yang dibawa pergi oleh Belanda.

Dewan Kesultanan Buton akhirnya memilih dan mengangkat kembali Himayatuddin sebagai sultan Buton ke-23. Ini dilakuakn tengah situasi konflik internal dan ancaman kekuasaan Belanda yang semakin menjadi-jadi. Dewan sara menilai, kehadiran Himayatuddin sangat penting. Namun Himayatuddin tetap bersikap seperti semula, yakni tidak bersedia untuk bekerjasama dengan Belanda. Dengan prinsip itu, kembali memutuskan meninggalkan singgasananya dan melanjutkan perjuangannya dengan taktik gerilya bersama dengan para pengikutnya di hutan.

Lakarambau meninggalkan benteng keraton lewat Lawana Burekene menuju Baadia. Ditemani Lakina Baadia, dia bersama pasukannya menuju benteng Sorawolio untuk mengungsi sementara, kemudian melanjutkan perjalanan ke Wakaokili.

Dalam perjalanan gerilya, Himayatuddin bertemu para petinggi Kesultanan Buton dan menyusun strategi perlawanan. Dia membangun pertahanan di Katapi bersama 40 pengikutnya. Dari Katapi, Himayatuddin pindah ke Wakaisua dan membangun benteng di sana. Menghadapi serangan pasukan Belanda, dia pindah lagi ke kawasan belantara Lakasuba. Dari sini Himayatuddin merumuskan pola pertahanan baru, dikenal dengan “perang rakyat semesta”, yang dibagi atas tiga unit pasukan reaksi cepat Sambo-samboekea yakni wilayah Kamaru meliputi Lasalimu, Pasar Wajo, dan Sampolawa. Pusat pertahanan terakhir Himayatuddin adalah puncak Gunung Siontapina. Sejak tahun 1755, tidak lama setelah perang Buton versus Belanda, Himayatuddin tinggal menetap di Siontapina sampai akhir hayatnya tahun 1776.

Perjuangan Lakarambau dalam melawan penjajah Belanda telah usai. Kini tinggal peran semua elemen lembaga untuk bersatu mengambil peran dalam menjadikan Lakarambau sebagai pahlawan Nasional. “Utamanya KNPI di daerah-daerah yang membuat pernyataan mendukung penuh hal ini,” tutup Dr Tasrifin Tahara. Dny

You might also like More from author