IMKB-Makasar Gelar Dialog Publik Tentang Oputa Yiko’o Sebagai Pahlawan Nasional

131 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Baubau-Perjuangan dalam menjadikan Sultan Buton ke-22 dan 24, Himayatuddin atau Oputa Yiko’o sebagai pahlawan Nasional terus dilakukan. Kali ini datang dari kumpulan mahasiswa Makasar yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Kota Baubau (IMKB) Makasar.

Bentuk kepedulian itu diwujudkan melalui dialog publik Bertabur Cahaya di Negeri Seribu Benteng (Jilid 2), dengan tema “Mengenal Jejak Panjang Oputa Yikoo Sebagai Tanggung Jawab Moral Pemuda Dalam Mengangkat Eksistensi Nilai-Nilai Kepahlawanan”. Dialog yang dimulai pukul 17:30 Wita itu digelar di lapangan Kara Benteng Keraton Buton, Saptu (3/8).

Dialok ini menghadirkan Kadis Pariwisata Kota Baubau, Ali Arham MMP, La Ode Munafi, Imran Kudus SPD MSC, dan La Yusrie sebagai pemateri. Sedang Abdul Ghaniyu bertindak sebagai moderator.

Kadis pariwisata Baubau, Ali Arham mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Pasalnya, dengan segala keterbatasan panitia penyelenggara sukses mengadakan alakadarnya itu.

Ia berjanji akan mengadakan kegiatan serupa dengan konsep lebih menarik. Apalagi hal itu untuk kebaikan dan mengangkat nama daerah. “Saya sangat apresiasi para adik-adik ini yang sudah mau menggelar kegiatan ini. Kedepan kita akan adakan yang lebih besar dari ini,” kata Ali Arham saat ditanya usai kegiatan.

Di tempat yang sama, salah satu pemateri yang juga tim pengusul, La Ode Yusrie menjelaskan, berdasarkan rapat evaluasi internal tim terakhir, tidak lagi ada kekurangan yang ditemukan pada dokumen maupun data untuk kebutuhan pengusulan La Karambau alias Oputa Yiko’o alias Sultan Himayatuddin dalam pekgusulan sebagai pahlawan Nasional.

Hanya saja, tim dari kementerian sempat mempersoalkan makam Oputa Yiko’o yang sesungguhnya. Pasalnya, menurut sumber data, ada tiga titik makam Sultan yang menentang Belanda itu. Ketiga titik itu adalah Lawele, Kecamatan Lasalimu, kabupaten Buton. Kecamatan Siontapina, Kebupaten Buton dan di dalam lingkungan Benteng Keraton Buton, Kota Baubau. “Ini harus ditentukan satu dimana sebenarnya, karena akan berkonsekuensi bila telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, maka seluruh terkait Oputa Yikoo menjadi urusan negara, termasuk makamnya,” Kata Yusrie.

Kata dia, banyak pertimbangan untuk menentukan titik makam sesungguhnya Oputa Yiko’o ini. Bahkan sempat menjadi diskusi alot antara tim pengusul dan tim kementerian. Namun akhirnya panitia menetapkan makam Oputa Yiko’o di dalam Benteng Keraton Buton. Salah satu pertimbangannya adalah bagaimana menjaga Marwah pusat kesultanan.
“Tidak ada keraguan bahwa Sultan ke 22 dan 24 dipastikan meninggal di Siontapina. Tetapi kemudian, dikutip dari sebuah narasi menyebutkan, setelah meninggal di Siontapina, Sara (Pemerintah, red) Kesultanan meminta agar makamnya dipindahkan di Lele mangura Keraton Buton, begitu pun sama kisahnya di Lawele,” papar peneliti Budaya Buton itu.

Sejauh ini, proses pengusulan Oputa Yiko’o sebagai pahlawan Nasional telah masuk tahap akhir, dimana sedang ditangani oleh Dewan Gelar di Istana Kepresidenan di Ketuai langsung Menteri Pertahanan. Selain itu salah satu Wakil Dewan Gelar Prof Dr Jimly asshiddiqie SH MH ikut mengawal proses tersebut. Dny

You might also like More from author